Thera Production

2026: 5 Tren Visual Branding yang Wajib Diadopsi Bisnis Fashion

Halo, brand owner! Seperti yang kita semua tahu, industri fashion bergerak dengan sangat cepat. Di tengah banjir konten dan algoritma yang selalu berubah, mungkin kamu bertanya-tanya:

“Harus mulai dari mana lagi supaya brand saya tetap relevan dan disukai?”

Berdasarkan analisis mendalam dari The Branding Journal tentang tren 2026, jawabannya tidak lagi sekadar membuat logo yang bagus atau foto produk yang tajam. Tahun ini, game-nya berubah!

AI sudah mulai memfilter pilihan konsumen, sementara di sisi lain, audiens justru semakin haus akan keaslian dan pengalaman yang bisa mereka rasakan.

Nah, lima tren di bawah ini bukan cuma soal look, tapi strategi visual untuk membangun brand yang lebih berani, lebih humanis, dan berkesan di hati (dan layar) pelangganmu.

1. Visual yang “Hidup”

Sekarang, identitas visual yang “konsisten” (contoh: instagram feed yang “rapi”) udah nggak jaman lagi! Tren 2026 yang dicari audiens adalah visual yang “hidup” — palet warna bernuansa beda sesuai musim, foto-foto “real” atau tidak terlalu sempurna, dan tipografi yang lebih ekspresif.

Kenapa penting?
Sebagai pemilik brand fashion yang mengeluarkan koleksi baru setiap musim, kamu perlu punya ruang untuk bercerita dengan cara yang berbeda di setiap campaign supaya brand kamu lebih terasa dinamis dan segar, bukan monoton.

Caranya:

  • Mood-based Color Palette: Pilih beberapa warna yang sesuai mood yang diinginkan. Misalnya, koleksi Ramadan bernuansa “warm dengan aksen earthy“. Dari situ, kamu bisa memilih warna cream, beige, atau ivory untuk warna kain, dan warna coklat tua untuk aksen.
  • Elemen Dekoratif: Buat 2-3 elemen dekoratif yang bisa kamu gunakan dalam produk dan visual campaign saat kamu launching koleksi tersebut.

2. The Raw & Human Touch

Ketika AI bisa menghasilkan visual yang sempurna, justru audiens mencari yang “tidak sempurna” dan terasa buatan manusia. Mereka sudah lelah dengan kesempurnaan dan ingin melihat ‘keaslian’ dan cerita di balik layar brand kamu.

Kenapa penting?
Brand fashion yang dibangun dengan kepercayaan dan hubungan emosional dengan audiens bisa menunjukkan bahwa brand kamu dibuat dengan perhatian dan ketulusan, bukan mesin.

Caranya:

  • Buat Konten “Proses Kreatif”: Perlihatkan sketsa desain awal, kain yang sedang dipilih, atau video singkat penjahit sedang menyelesaikan detail sebuah baju.
  • Fotografi dengan Karakter: Gunakan teknik seperti film grain, scan analog, atau komposisi yang terasa sedikit spontan alih-alih terpose sempurna. Tampilkan tekstur kain secara close-up.
  • Ceritakan Kisahnya: Buat visual dan caption yang bercerita tentang pengalaman atau kisah yang jadi inspirasi di balik pembuatan koleksi kamu.

3. Sensory & Tactile Design

Sekarang, brand harus berusaha untuk bisa dirasakan — meski lewat layar. Kamu perlu menciptakan pengalaman visual yang begitu kuat, agar audiens bisa “merasakan” produkmu: tekstur kain yang lembut dan flowy seperti angin di sore hari.

Kenapa penting?
Ini senjata rahasia untuk melawan keterbatasan belanja online. Ketika pelangganmu tidak bisa menyentuh produk, visual sensorik-lah yang akan meyakinkan mereka tentang kualitas dan mendorong keputusan untuk membeli produkmu.

Caranya:

  • Highlight Tekstur: Investasi foto yang sangat detail dab menonjolkan tekstur kain, kemilau, atau kelembutan.
  • Integrasikan Elemen Lain: Tambahkan elemen pendukung seperti sound branding (musik atau suara yang konsisten di video) atau video yang menunjukkan saat kain bergerak.
  • Kata-kata Deskriptif: Gunakan copywriting yang menggugah indra. “Lembutnya seperti sutra yang didinginkan,” atau “Kain denim premium yang terasa kokoh.”

THERA Video Product Reels

4. Human-Led Authority

Di era di mana AI bisa membuat segalanya, manusia di balik brand justru menjadi aset paling berharga. Tren 2026 menekankan pada pentingnya personal branding founder, tim, dan cerita asli yang membangun kredibilitas dan komunitas.

Kenapa penting?
Konsumen, terutama Gen Z dan Millennial, ingin mendukung people, bukan hanya product. Mereka ingin tahu nilai-nilai, perjuangan, dan visi manusia di balik label yang mereka kenakan untuk membangun loyalitas yang jauh lebih dalam.

Caranya:

  • Tampilkan Wajah Founder: Jadilah narator utama untuk brand-mu. Bagikan insight proses desain, nilai yang dipegang, atau kegagalan yang pernah dialami.
  • Fokus pada “Mengapa”: Dalam komunikasi, selalu tekankan mengapa brand-mu ada dan percaya apa, bukan hanya menjual apa.
  • Bangun Komunitas, Bukan Hanya Audience: Libatkan pelangganmu. Minta pendapat mereka tentang warna berikutnya, adakan kontes styling dengan produkmu, atau wawancara pelanggan setia.
  • Beralih dari “Influencer” ke “Advocate”: Ketimbang hanya membayar endorse sekali pakai, cari micro-influencer atau pelanggan setia yang benar-benar mencintai brandmu dan izinkan mereka bercerita dengan cara mereka sendiri.

5. Visual yang Berbicara: Dari Foto Produk ke Cerita Sinematik

Setelah membangun fondasi di atas—mulai dari visual yang fleksibel, sentuhan manusiawi, sampai bangun komunitas—sekarang waktunya showtime! Tantangan terakhir adalah: gimana caranya bikin orang ngeh dan ingat brand kamu dalam 3 detik?

Bayangkan kamu sedang scroll instagram, ada iklan tumbler yang aesthetic banget. Visualnya nggak cuma tunjukin barang, tapi bikin kamu kebayang, “Aku pengen ke luar angkasa.” Nah, itu kekuatan visual sinematik. Nggak perlu budget film Hollywood, kok. Yang penting, mindset-nya: kita bikin visual yang bercerita, bukan cuma foto biasa.

Kenapa penting?

Di tengah banjir foto produk dan video TikTok yang cepat, visual yang aesthetic itu ibarat oase: bikin brand kamu keliatan lebih premium, penuh cerita, dan yang paling penting—mudah diingat dan bisa meningkatkan brand value di mata audiens.

Caranya:

  • Pikirkan “Adegan”, bukan cuma “Pose”: Sebelum photoshoot, tanyakan ke diri sendiri: “Orang seperti apa yang memakai produk ini? Sedang dalam situasi apa? Apa yang dia rasakan?” Kemudian, berikan brief ke fotografer agar Model bisa diarahkan untuk berpose sesuai adegan yang kamu inginkan. Contoh: bukan sekadar foto pakai jaket, tapi “adegan” seorang kreatif yang sedang bermain skateboard di depan museum, dengan jaket kamu sebagai statement piece-nya.
  • Lokasi adalah “Pemain Pendukung”: Pilih latar yang ikut mendukung cerita. Dinding tua yang penuh tekstur untuk nuansa vintage, garis-garis arsitektur modern untuk kesan minimalis futuristik, atau suasana alam yang syahdu untuk brand yang earthy.
  • Buat Series: Bayangkan kamu sedang membuat lookbook mini yang punya alur dan saling nyambung untuk satu koleksi. Contoh: foto pertama close up tekstur kain, berikutnya foto suasana aktivitas dengan full outfit, dan terakhir ekspresi model di suasana tersebut. Visual yang bercerita bisa bikin audiens kamu penasaran dan scroll lebih lama.

Kesimpulan: Branding 2026 adalah Tentang “Merasa”, Bukan Hanya “Melihat”

Lima tren di atas menunjukkan pergeseran besar: dari branding yang hanya dilihat mata, menuju branding yang dirasakan oleh hati dan indra. Tantangan sekaligus peluangnya adalah menemukan keseimbangan antara teknologi (seperti AI) dengan sentuhan manusia yang tak tergantikan.

Langkah pertama yang bisa kamu ambil minggu ini adalah: Pilih SATU dari tren ini yang paling resonate dengan jiwa brand-mu. Apakah kamu ingin lebih banyak menunjukkan proses kreatif (Tren #2)? Atau ingin bereksperimen dengan komunitas (Tren #4)? Mulailah dari sana, eksperimen, dan lihat bagaimana audiensmu merespons.

Ingin menerjemahkan tren ini menjadi visual yang powerful dan konsisten untuk brand fashion-mu? THERA Production siap menjadi partner kreatifmu. Dari konsep hingga eksekusi, kami membantu brand seperti kamu bercerita dengan visual yang tidak hanya indah, tetapi juga bermakna dan menjual. Yuk, diskusikan ide brilianmu! [Klik di sini untuk konsultasi gratis].

Inspirasi: The Branding Journal. (2026). Top Branding & Design Trends For 2026.

Share :

Related Posts

Subscribe to THERA Newsletters

Get the best in industry news, delivered to your inbox.